Aleix Espargaro: Banyak Pembalap Muda Gagal Berkembang Karena Orang Tua Terlalu Mengatur

11 November 2025 Author: Enggo 0x dibaca

Perjalanan karier Aleix Espargaro di dunia MotoGP tidak berjalan mulus. Rider asal Granollers, Spanyol itu melewati banyak rintangan dan sempat kehilangan semangat hingga berpikir untuk pensiun lebih awal. Setelah 13 tahun berlaga di MotoGP, ia akhirnya memutuskan untuk gantung helm pada akhir 2024 dan kini bertugas sebagai pembalap penguji di HRC (Honda Racing Corporation).

“Sepuluh tahun lalu, saya akan bilang masa awal karier saya bukan sepenuhnya salah saya. Saya naik kelas terlalu cepat, dari 125cc langsung ke 250cc. Manajemen saya saat itu kurang baik, dan saya tidak mendapat bimbingan yang tepat. Kalau dipikir lagi, itu tidak banyak membantu. Tapi sebagian juga karena sifat saya sendiri yang mudah panik dan ingin cepat-cepat,” ujar pembalap berusia 35 tahun itu.

Baca Juga : Inilah Minuman Terbaik yang Harus Diminum Saat Tubuh Sedang Sakit

Ia menambahkan, “Sekarang saya bukan lagi Aleix yang keras kepala dan bekerja tanpa henti seperti dulu. Hidup mengajarkan banyak hal lewat kesulitan. Saya belajar menjadi lebih kuat. Waktu muda, saya tidak seperti itu. Lonjakan kelas nyaris membuat karier saya berakhir, tapi saya tidak menyerah. Dari situ saya belajar bahwa tidak pernah ada kata terlambat. Perjalanan menuju MotoGP sungguh seperti rollercoaster.”

Aleix menapaki karier balapnya bersama sang adik, Pol Espargaro, yang kini juga menjadi test rider KTM. “Saya pernah melewati dua tahun tanpa penghasilan sama sekali. Saya dan Pol beruntung karena orang tua kami tidak ikut campur terlalu jauh. Mereka hanya mendukung sebisanya, walaupun kami berasal dari keluarga sederhana dan tidak punya banyak uang. Namun saat kami mulai berkembang, mereka mengambil jarak dan tetap berperan sebagai orang tua, bukan manajer. Itu sangat membantu kami,” tuturnya.

Baca Juga : Jumlah Titik Banjir di Jakarta Pada Malam Ini Bertambah Menjadi 30 RT

Ia melanjutkan, “Saya melihat banyak pembalap muda bertalenta yang gagal maju karena orang tua mereka terlalu terlibat, bahkan ingin menjadi manajer sendiri dan menganggap anaknya calon penerus Marquez atau Rossi. Untungnya, orang tua kami tidak seperti itu.”

Tahun-tahun awal Aleix di MotoGP penuh tantangan hingga akhirnya ia bergabung dengan Suzuki (2015–2016) dan kemudian Aprilia (2017–2024). “Masuk ke Suzuki tidak mudah. Untuk keluar dari tim Aspar (2012–2013), saya harus membayar penalti besar dan mengorbankan semua tabungan saya. Saya sempat dua tahun tanpa bayaran saat pindah ke Yamaha Forward (2014), tapi hasilnya memuaskan—saya finis keenam di klasemen. Keputusan itu menjadi titik balik karier saya sebelum akhirnya direkrut Suzuki,” kisahnya.

Suami Laura Montero itu mengakui masa transisi ban dari Bridgestone ke Michelin sangat sulit baginya. “Saya tidak bisa beradaptasi, sering terjatuh, dan performa saya turun drastis. Maverick Vinales sebagai rekan setim malah tampil lebih baik meski baru naik dari Moto2. Saat itu saya benar-benar tidak kompetitif dan hampir kehilangan tempat di MotoGP,” ungkapnya.

Keadaan tersebut membuat Suzuki tidak memperpanjang kontraknya. Namun, kesempatan baru datang dari Aprilia. “Saya masih ingat saat menerima tawaran itu, saya bilang ke istri, ‘Saya akan buktikan kalau saya bisa tampil bagus dengan motor ini setelah musim buruk bersama Suzuki.’ Dan itu yang akhirnya saya lakukan,” kenangnya.

Butuh waktu bertahun-tahun sebelum Aleix akhirnya meraih kemenangan bersama Aprilia pada musim 2022. Musim itu juga membuka peluangnya untuk bersaing merebut gelar juara dunia, meski performa tim belum stabil dan kendala pada motor RS-GP membuat hasil mereka tidak maksimal.

“Itu tahun yang luar biasa. Menjadi juara dunia memang luar biasa, tapi bisa bersaing untuk itu sepanjang musim sudah merupakan mimpi yang terwujud. Saya benar-benar menikmatinya meski berada di bawah tekanan besar,” kata Aleix.

Ia menutup, “Saya tidak bisa menikmati balapan sepenuhnya karena stres dan tekanan, tapi tetap luar biasa. Aprilia dan saya sudah berjuang maksimal. Kami belum selevel dengan Yamaha, Ducati, atau pembalap seperti Pecco Bagnaia dan Fabio Quartararo. Namun kami tetap berusaha sampai akhir, meski saya tahu kami belum sepenuhnya siap untuk merebut gelar dunia.”

Ads

Berita Terbaru