Hujan deras yang mengguyur Kota Bandar Lampung pada Jumat, 6 Maret 2026, memicu banjir di sedikitnya 38 lokasi yang tersebar di berbagai kecamatan. Wilayah yang terdampak antara lain Sukarame, Rajabasa, Kedaton, Way Halim, Tanjung Senang, hingga beberapa kawasan di Tanjungkarang.
Ketinggian air di sejumlah titik bervariasi, mulai dari sebatas mata kaki hingga mencapai dada orang dewasa. Salah satu lokasi yang terdampak cukup parah berada di Jalan R.A. Basyid, Kelurahan Labuhan Dalam, di mana genangan air mengalir deras dan mengganggu aktivitas warga.
Baca Juga1 : Lampung Hari Ini Proyek Jalan Pendidikan SMA Negeri 1 Sidomulyo Tuntas, Warga Sekitar Kini Nikmati Hasilnya
Kawasan tersebut dikenal sebagai daerah dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Air yang meluap tidak hanya menggenangi jalan, tetapi juga masuk ke halaman rumah warga sehingga aktivitas masyarakat dan arus kendaraan menjadi terhambat.
Baca Juga : Anggaran Publikasi Media Dipotong, Pemkab Tanggamus Malah Bayar Konten Kreator Rp2,5 Juta per Bulan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan tingginya curah hujan di wilayah Lampung dipengaruhi oleh fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) yang meningkatkan pasokan uap air di atmosfer. Meski peringatan dini mengenai potensi hujan lebat telah disampaikan sebelumnya, dampak banjir tetap meluas.
Baca Juga : Detik-Detik Bocah Tewas Tenggelam Saat Berenang di Sungai Garuntang Lampung
Banjir yang terjadi juga menimbulkan korban jiwa. Tiga orang dilaporkan terseret arus deras saat banjir melanda. Satu korban ditemukan meninggal dunia, sedangkan dua lainnya yang masih berstatus anak-anak hingga kini dilaporkan belum ditemukan.
Baca Juga : Anggaran Publikasi Media Dipotong, Pemkab Tanggamus Malah Bayar Konten Kreator Rp2,5 Juta per Bulan
Peristiwa banjir tersebut kembali menegaskan bahwa persoalan banjir di Bandar Lampung merupakan masalah yang berulang hampir setiap tahun. Catatan pada 2024 menunjukkan setidaknya terjadi 11 peristiwa banjir di berbagai wilayah kota.
Sementara itu pada Februari 2025, sekitar 9.425 rumah sempat terendam banjir dengan jumlah warga terdampak mencapai lebih dari 30.000 orang. Banjir besar saat itu juga menimbulkan kerugian material serta korban jiwa.
Seiring berjalannya waktu, banyak warga menilai banjir tidak hanya dipicu oleh cuaca ekstrem, tetapi juga berkaitan dengan tata kelola perkotaan yang dinilai belum optimal.
Minimnya ruang terbuka hijau, alih fungsi lahan, serta berkurangnya kawasan resapan air disebut sebagai faktor yang memperparah kondisi ketika hujan deras turun. Pembangunan yang semakin padat membuat kemampuan tanah menyerap air menjadi semakin berkurang.
Selain itu, sistem drainase di beberapa wilayah kota juga dinilai belum mampu menampung volume air hujan yang tinggi. Akibatnya, air dengan cepat meluap dan menggenangi jalan serta kawasan permukiman.
Masalah saluran air yang tidak berfungsi optimal sebenarnya telah lama menjadi perhatian masyarakat. Banyak drainase yang mengalami penyempitan, tersumbat, atau tidak mampu menampung debit air ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.
Kondisi ini terlihat jelas di sejumlah kawasan padat penduduk, termasuk di sekitar Jalan R.A. Basyid dan beberapa wilayah lain yang hampir setiap tahun mengalami genangan air.
Salah satu persoalan utama yang disoroti adalah minimnya ruang terbuka hijau di Kota Bandar Lampung. Saat ini luas ruang hijau diperkirakan hanya sekitar 4,5 persen dari total wilayah kota.
Angka tersebut jauh di bawah ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yang menetapkan bahwa setiap kota seharusnya memiliki minimal 30 persen ruang terbuka hijau.
Selain itu, alih fungsi lahan juga terus terjadi di berbagai wilayah kota. Banyak kawasan yang sebelumnya menjadi daerah resapan air kini berubah menjadi kawasan permukiman maupun perkantoran.
Perubahan fungsi lahan tersebut menyebabkan kemampuan tanah menyerap air hujan semakin menurun. Dampaknya, air hujan lebih mudah mengalir ke permukaan dan menimbulkan genangan di sejumlah wilayah.
Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa buruknya sistem drainase juga menjadi salah satu faktor utama penyebab banjir. Sejumlah saluran air tidak lagi berfungsi optimal karena mengalami penyumbatan maupun kerusakan.
Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, saluran air yang ada tidak mampu menampung debit air sehingga banjir terjadi di berbagai titik kota.
Kondisi ini memicu kritik dari sebagian masyarakat terhadap kebijakan pemerintah kota. Beberapa pihak menilai bahwa program yang dijalankan pemerintah belum sepenuhnya menyentuh persoalan utama yang dihadapi masyarakat.
Salah satu program yang menjadi sorotan adalah pembagian paket umroh gratis yang dibiayai melalui APBD. Sebagian warga menilai anggaran tersebut seharusnya dapat diprioritaskan untuk memperbaiki infrastruktur kota, terutama sistem drainase dan penanganan banjir.
Masyarakat berharap pemerintah dapat lebih fokus pada pembenahan tata ruang kota, peningkatan kualitas drainase, serta penambahan ruang terbuka hijau sebagai langkah untuk mengurangi risiko banjir di masa mendatang.
Tanpa adanya upaya perbaikan yang serius dan berkelanjutan, banjir dikhawatirkan akan terus menjadi masalah tahunan yang merugikan warga serta merusak berbagai infrastruktur di Kota Bandar Lampung.
Sumber : otentikindonesia.com