Hujan deras yang mengguyur Kota Bandar Lampung pada Jumat, 6 Maret 2026, kembali memicu banjir di berbagai wilayah. Curah hujan yang tinggi dan berlangsung cukup lama membuat sejumlah ruas jalan utama hingga kawasan permukiman warga terendam air.
Di beberapa titik, air terlihat meluap dari saluran drainase maupun sungai yang melintas di kawasan perkotaan. Kondisi ini memunculkan pertanyaan lama yang belum terjawab: mengapa banjir masih terus berulang setiap kali hujan dengan intensitas tinggi terjadi.
Baca Juga1 : Pemerintah Incar Kontribusi Ekonomi Digital 19 Persen terhadap PDB pada 2045
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan banjir tidak semata-mata dipicu oleh faktor cuaca. Lebih jauh, kondisi tersebut mengindikasikan masih adanya permasalahan dalam pengelolaan sistem drainase dan aliran sungai di wilayah kota.
Baca Juga : Iran Ancam Serang Perusahaan Teknologi AS dan Israel, Google hingga Microsoft Jadi Target
Di sejumlah lokasi, saluran drainase tampak tidak bekerja secara maksimal. Beberapa mengalami kerusakan, sementara lainnya tersumbat akibat endapan lumpur maupun sampah. Akibatnya, aliran air yang seharusnya lancar justru terhambat dan meluap ke permukaan jalan serta permukiman.
Baca Juga : Anggaran Publikasi Media Dipotong, Pemkab Tanggamus Malah Bayar Konten Kreator Rp2,5 Juta per Bulan
Kondisi sungai juga turut berkontribusi terhadap terjadinya banjir. Di beberapa bagian, lebar sungai berkurang akibat pembangunan di sekitar bantaran. Sementara di titik lain, terjadi pendangkalan karena penumpukan sedimentasi yang tidak ditangani secara rutin.
Baca Juga : Iran Ancam Serang Perusahaan Teknologi AS dan Israel, Google hingga Microsoft Jadi Target
Akibat perubahan tersebut, kemampuan sungai dalam menampung debit air semakin menurun. Saat hujan deras mengguyur, volume air meningkat drastis dan sungai tidak mampu lagi menampungnya, sehingga air melimpas ke area sekitarnya.
Selain itu, pesatnya pembangunan kota turut memperburuk situasi. Banyak lahan terbuka dan daerah resapan air beralih fungsi menjadi kawasan permukiman, pusat bisnis, maupun infrastruktur lainnya. Permukaan yang tertutup beton membuat air hujan sulit meresap ke dalam tanah dan langsung mengalir sebagai limpasan dalam jumlah besar.
Masalah sampah juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Sampah yang dibuang ke saluran air sering terbawa arus dan menumpuk di titik-titik tertentu, sehingga memperparah penyumbatan dan menghambat aliran air.
Melihat kondisi tersebut, diperlukan langkah penanganan yang lebih serius dan berkelanjutan. Perawatan rutin serta perbaikan saluran drainase menjadi hal penting agar sistem pengaliran air dapat berfungsi optimal.
Selain itu, normalisasi sungai perlu dilakukan secara berkala, termasuk pengerukan sedimentasi dan penataan kawasan di sekitar bantaran sungai. Pengendalian pembangunan di wilayah tersebut juga menjadi kunci untuk menjaga kapasitas sungai tetap optimal.
Pengelolaan sampah perkotaan juga harus diperkuat melalui sistem yang lebih tertib dan terintegrasi. Penyediaan serta pengelolaan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) yang memadai dapat membantu mengurangi kebiasaan membuang sampah sembarangan.
Di sisi lain, peran masyarakat juga tidak kalah penting. Kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membuang sampah ke saluran air menjadi langkah sederhana namun berdampak besar dalam mengurangi risiko banjir.
Peristiwa banjir ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan kota tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik semata, tetapi juga pada keseimbangan lingkungan serta keberlanjutan sistem sumber daya air.
Sumber : sinarlampung.co