Masa Silam Kembali Jadi Sorotan di Tengah Polemik Inara Rusli, Virgoun Ungkap Rasa Jengah Terus Disudutkan

17 Desember 2025 Author: Enggo 0x dibaca

Ngerasanin.my.id - Nama Virgoun kembali ramai diperbincangkan publik setelah isu lama mengenai kehidupannya kembali diangkat seiring mencuatnya polemik yang melibatkan Inara Rusli dan Insanul Fahmi. Situasi ini membuat sang musisi merasa tidak nyaman karena dirinya kembali dikaitkan dengan masalah yang menurutnya sudah lama berlalu, namun terus dijadikan bahan perdebatan oleh warganet.

Di tengah sorotan terhadap kasus yang menyeret nama Inara Rusli, masa lalu Virgoun kembali menjadi perbincangan. Banyak pihak menilai bahwa konflik yang terjadi saat ini berakar dari kesalahan yang pernah ia lakukan di masa silam. Hal inilah yang membuat Virgoun merasa kesal karena ia kembali menjadi sasaran tudingan dan disalahkan atas persoalan yang sejatinya melibatkan keputusan individu lain.

Baca Juga : Konsistensi Gelar Event Balap Sepeda, Banyuwangi Raih Pengakuan dari PB ISSI

Rasa kegelisahan tersebut tidak dipendam sendiri. Virgoun memilih untuk menyuarakan perasaannya melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. Dalam unggahan tersebut, ia menuliskan kalimat bernada reflektif sekaligus sindiran, yang menggambarkan dilema saat ingin menyampaikan pendapat di ruang publik namun khawatir akan disalahartikan.

Ia mengungkapkan bahwa dirinya sebenarnya ingin menulis pesan yang penuh kebijaksanaan. Namun, ia menyadari bahwa apa pun yang ia sampaikan bisa dengan mudah dipotong, disebarluaskan, lalu dibahas secara berlebihan oleh publik. Karena itulah, ia memilih menulis dengan gaya santai dan apa adanya, meskipun tetap menyiratkan kekecewaan yang mendalam.

Baca Juga : Pemprov DKI Jakarta Dorong Terwujudnya Kota yang Berkelanjutan dan Inklusif

Virgoun juga menanggapi komentar warganet yang menyebut bahwa semua persoalan yang terjadi saat ini bermula dari kesalahan dirinya di masa lalu. Ia mengakui bahwa dirinya memang pernah berbuat salah dan tidak pernah menampik hal tersebut. Bahkan, ia menegaskan bahwa hingga saat ini rasa penyesalan atas kesalahan tersebut masih ia rasakan.

Pengakuan tersebut disampaikan secara terbuka sebagai bentuk tanggung jawab moral. Menurut Virgoun, mengakui kesalahan bukanlah hal yang mudah, tetapi penting untuk dilakukan agar tidak terjebak dalam pembenaran diri. Meski demikian, ia menilai bahwa mengaitkan setiap masalah yang muncul dengan kesalahan masa lalunya adalah sesuatu yang tidak adil.

Ia menekankan bahwa setiap manusia dewasa memiliki kebebasan sekaligus tanggung jawab atas pilihan hidup yang diambil. Dalam pandangannya, setiap persoalan seharusnya disikapi dengan nalar dan hati nurani, bukan dengan terus mencari kambing hitam dari masa lalu seseorang.

Virgoun juga menyinggung bahwa pihak-pihak yang kini terlibat dalam polemik merupakan individu dewasa yang memahami konsekuensi dari setiap langkah yang diambil. Ia menilai bahwa ujian hidup yang dialami seseorang tidak seharusnya selalu dikaitkan dengan kesalahan orang lain, terlebih jika kesalahan tersebut sudah terjadi lama dan telah diakui.

Dalam unggahannya, ia mengajak publik untuk melihat persoalan secara lebih jernih dan proporsional. Menurutnya, menyederhanakan masalah dengan menunjuk satu pihak sebagai penyebab utama hanya akan memperkeruh suasana dan menutup ruang untuk introspeksi bagi semua pihak yang terlibat.

Tak hanya itu, Virgoun juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat menerima pesan pribadi dari seseorang yang menuding adanya pihak tertentu yang sengaja memainkan opini publik. Meski demikian, ia memilih untuk tidak langsung mempercayai tudingan tersebut dan berusaha berpikir lebih rasional.

Ia merasa heran karena di tengah persoalan yang tidak ia jalani secara langsung, namanya justru kembali diangkat dan kesalahan lamanya diungkit. Hal ini membuatnya bertanya-tanya mengapa narasi yang berkembang selalu berujung pada dirinya, seolah-olah setiap konflik baru tidak bisa dilepaskan dari masa lalunya.

Virgoun pun melontarkan pertanyaan reflektif kepada publik. Ia mempertanyakan apakah jika di masa depan kembali muncul masalah atau kekhilafan dari pihak lain, pola narasi yang sama akan terus digunakan. Menurutnya, pola pikir seperti ini tidak akan pernah membawa penyelesaian yang sehat.

Dalam ungkapannya, Virgoun juga menyinggung posisi sulit yang ia hadapi sebagai seorang ayah. Ia mengaku kesulitan untuk bersikap acuh terhadap persoalan yang melibatkan ibu dari anak-anaknya, meskipun hubungan keduanya telah berubah. Bagi Virgoun, ikatan sebagai orang tua tidak bisa diputus begitu saja, terlepas dari konflik pribadi yang pernah terjadi.

Ia menyadari bahwa publik memiliki pandangan dan penilaian masing-masing. Namun, ia berharap ada batasan dalam menghakimi dan mengaitkan masa lalu seseorang dengan setiap peristiwa baru. Menurutnya, sikap tersebut hanya akan menambah beban emosional dan memperpanjang konflik.

Virgoun juga menegaskan bahwa dirinya tidak mencari pembenaran atas kesalahan yang pernah ia lakukan. Ia hanya ingin agar setiap individu yang terlibat dalam suatu masalah dapat bertanggung jawab atas pilihannya sendiri, tanpa harus terus menyeret orang lain yang tidak berada di pusat persoalan.

Unggahan tersebut menjadi cerminan kelelahan emosional yang dirasakan Virgoun akibat tekanan opini publik. Ia merasa bahwa pengakuan dan penyesalan yang telah ia sampaikan seharusnya cukup menjadi bukti bahwa ia tidak lari dari tanggung jawab.

Di sisi lain, ia juga berharap masyarakat dapat lebih bijak dalam menyikapi isu-isu personal figur publik. Menurutnya, empati dan pemahaman akan kompleksitas kehidupan seseorang jauh lebih dibutuhkan dibandingkan penghakiman sepihak.

Dengan menyampaikan kegelisahannya secara terbuka, Virgoun seolah ingin menegaskan bahwa setiap manusia berhak untuk belajar dari kesalahan dan melanjutkan hidup tanpa terus dihantui masa lalu. Ia berharap polemik yang terjadi dapat diselesaikan oleh pihak-pihak yang terlibat secara langsung, tanpa harus menyeret nama lain yang tidak lagi berada dalam lingkaran masalah tersebut.

Pernyataan ini pun memicu beragam respons dari warganet. Ada yang memahami posisi Virgoun dan mendukung pandangannya, namun tidak sedikit pula yang tetap berpegang pada opini lama. Terlepas dari itu semua, ungkapan hati Virgoun menunjukkan sisi manusiawi seorang figur publik yang juga memiliki batas kesabaran.

Ke depan, Virgoun berharap dapat lebih fokus pada kehidupannya sebagai ayah dan musisi, tanpa terus dibayangi oleh kesalahan yang telah ia akui dan sesali. Ia pun mengajak publik untuk belajar memisahkan masa lalu dari persoalan yang sedang berlangsung, demi menciptakan ruang diskusi yang lebih sehat dan adil.

Ads

Berita Terbaru

Perbandingan Wordpress vs Blogger ...

27 Okt 2025 Author : Enggo