Remaja berinisial AA (16) dikeluarkan dari grup WhatsApp (WA) komunitas pencinta alam di Bitung, Sulawesi Selatan (Sulsel), usai video kekerasan seniornya saat orientasi penerimaan anggota baru viral di media sosial. Orang tua AA yang keberatan anaknya mengalami kekerasan sempat meminta klarifikasi panitia namun tidak ditanggapi.
"Anak itu langsung dikeluarkan dari grup, karena sumber video itu dikirim di grup WA itu. Tapi sempat dibagikan ke WA bapaknya kalau tidak salah, jadi sudah save di handphone lain," kata kuasa hukum keluarga korban, Bili Ladi kepada detikcom, Kamis (2/10/2025).
Baca Juga : Pertamina Lirik Peluang Energi Etanol yang Lebih Hemat hingga 70 Persen dari Bensin
Bili mengatakan, ibu AA bernama Nurdiyana sempat menghubungi panitia setelah mengetahui anaknya babak belur sepulang dari orientasi komunitas pencinta alam. Hal ini dilakukan sebelum keluarga korban melayangkan laporan ke polisi.
"Ibunya minta diklarifikasi saja di telepon, tapi dari panitia ajak bertemu. Akhirnya ibu shareloc (lokasi pertemuan), tapi ditunggu berjam-jam mereka tidak datang. Akhirnya sudah buat laporan dulu terus mereka datang sehingga tidak ketemu," katanya.
Baca Juga : Pemadaman Listrik dan Internet Melambat di Aceh Usai Banjir Besar
Bili menyebut keluarga korban sangat menyesalkan dugaan kekerasan tersebut. Menurut dia, senior komunitas pencinta alam seharusnya mengedepankan edukasi kepada juniornya selama kegiatan berlangsung.
"Proses pengkaderan dalam komunitas lingkungan/alam dengan kekerasan, tidak ada korelasi sama sekali dengan pembangunan mental dan pemahaman tentang mencintai alam dan lingkungan," tegas Bili.