Lihat Film Animasi Indonesia “JUMBO” Melalui Semiotika

01 Juli 2025 Author: Ruang Media 0x dibaca

Film JUMBO (2025) karya Ryan Adriandhy mungkin terlihat seperti film animasi anak pada umunya yang penuh warna, dan imajinatif. Tetapi kalau kita perhatikan lebih lanjut, ada banyak cerita dibalik perjalanan Don dan teman-temannya. Yuk kita pahami makna yang terkandung dalam film ini melalui analisa semiotika.

Tokoh utama Don, punya satu misi sederhana tapi penuh makna, yaitu menidupkan kembali pertunjukan buku dongeng peninggalan ayah dan ibunya. Jika dilhat dari sudut pandang semiotika, buku dongeng itu bukan cuma barang.

Baca Juga : Pertamina Perkirakan Kebutuhan BBM Saat Libur Natal dan Tahun Baru Meningkat 2,3 Persen

Ia adalah simbol dari masa lalu, cinta keluarga, sekaligus impian Don sendiri. Ketika buku itu dicuri oleh Atta, temannya yang mengejek mimpi Don, yang direbut bukan cuma buku, tapi juga rasa percaya diri Don terhadap warisan orang tuanya.

Didampingi dua sahabatnya, Nurman dan Mae, Don memulai perjalanan untuk mengambil kembali bukunya. Perjalanan ini adalah simbol dari proses pendewasaan. Mereka bertemu tantangan, masuk ke dunia lain, dan perlahan mengenal siapa diri mereka sebenarnya.

Baca Juga : KPK Tegaskan Penyelidikan Dugaan Korupsi Proyek Kereta Cepat Whoosh Masih Berlangsung

Kehadiran Meri, gadis misterius dari dunia lain yang juga mencari orang tuanya, menambah dimensi emosional cerita. Meri adalah cerminan Don: sama-sama kehilangan, sama-sama sedang mencari. Mereka sedang mencari cinta dari keluarga dan juga orang tua masing- masing. Dunia yang mereka jelajahi bersama adalah simbol dari batin yang rapuh tapi penuh kemungkinan.

Dalam JUMBO, visual punya peran penting. Warna cerah muncul saat karakter sedang bersemangat atau dekat dengan harapan. Warna gelap hadir saat konflik batin muncul. Dunia fantasi di film ini bukan sekadar latar tempat, tapi menjadi metafora untuk isi hati para tokoh.

Ads

Berita Terbaru